Dua Tahun Sudah Nasib Penarik Delman Monas Tidak Jelas

>> Senin, 12 Oktober 2009



Selasa (24/6), Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, tempat Kantor Kepala Daerah DKI, Fauzi Bowo biasa ngantor, ramai didemonstrasi oleh ratusan penarik delman eks penarik delman Silang Monas.

Mereka mempertanyakan janji Pemkot DKI kepada mereka rencana pemindahan lokasi mencari nafkah, dari Bilangan Silang Monas ke beberapa lokasi yang dijanjikan. Hal itu menyusul dilarangnya pengoperasian delman di kawasan Silang Monas semenjak dua tahun lalu.

Ratusan pengunjuk rasa, yang terdiri dari eks penarik delman di Monas, para keluarga, anak-anak kecil, serta organ Eksekutif Harian Persatuan Perjuangan Delman Betawi (EH-PPDB) berunjuk rasa di pagar Balai Kota, berlatar puluhan delman yang diparkir di belakang mereka.

Disamping mempertanyakan kepastian delman bisa beroperasi legal di kawasan Monas, mereka juga mempertanyakan kepastian tempat relokasi, yang direncanakan di kawasan Monas, Ancol dan Taman Mini.

Mereka juga mendesak pencabutan SK Pemda DKI yang melarang beroperasinya delman di Monas, menuntut pemberdayaan delman sebagai representasi budaya Betawi, dan mendesak Pemkot menciptakan alternatif pekerjaan bagi mereka.

Diantara teriakan dan yel-yel yang diserukan, terdengar juga teriakan tuntutan mundur terhadap Fauzi Bowo, karena sudah “membunuh” mata pencaharian masyarakat kecil tanpa memberi alternatif solusi bagi mereka.

Sementara itu, seorang kusir delman yang mengaku bernama Enjum (45) eks penarik delman Silang Monas, merasa semenjak diusir dari kawasan Silang Monas, kesulitan menyambung hidup.

Enjum yang warga Kemanggisan ini, lantas bersama beberapa orang rekannya terpaksa ngetem selama dua tahun belakangan ini, pasca pengusiran, di depan Balai Kota. “Yah kita terpaksa ngetem di sini, karena di sekitar Monas, hanya di depan Balai Kota ini saja delman boleh mangkal,” tambah ayah enam anak ini kepada iwanfals.co.id.

Masa-masa menarik delman di kawasan Monas hanya tinggal kenangan baginya. Padahal, sewaktu menarik delman di kawasan Silang Monas, sehari dia biasa mengantongi pendapatan sebesar Rp 100.000.

Belum lagi saat hari Sabtu dan Minggu, tak kurang 200.000 masuk ke kantongnya, setelah dikurangi biaya operasional, untuk makan kuda dan retribusi kebersihan Rp 10.000. Jumlah tersebut akan meningkat hingga dua kali lipat, jika di Monas sedang ada acara.

Namun, semenjak pindah di lokasi barunya, depan Balai Kota, penghasilan yang diperoleh jauh merosot. ”Sering sekali kita justru boncos, pendapatan tidak bisa menutupi pengeluaran,” katanya lagi.

Dulunya di kawasan Silang Monas, terdapat 90-an delman berasal dari empat wilayah, yaitu Kemanggisan, Tangerang, Pasar Senin, serta Cimanggis-Depok.

Dia berharap agar Gubernur DKI dapat mengambil kebijakan yang pro rakyat, apalagi menurutnya delman adalah warisan budaya Betawi. ”Pawai Ulang Tahun DKI saja tak pernah lepas dari Delman, kok malah mau dimusnahkan,” tambahnya.

Sumber : Iwan Fals Suara Hati

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger template Werd by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP